Sabtu, 22 Mei 2010

Agama dan Persatuan

Agama dan Persatuan.

(Forum diskusi antar agama di internet)

oleh: Ahmad Cahyana

 

 


            Beberapa hari yang lalu, saya berjalan-jalan di “Dunia Maya”. Saya mencoba untuk mencari forum diskusi antar agama. Tak disangka, pertumbuhan teknologi begitu cepat sehingga saya menemukan banyak sekali forum dari pencarian melalui situs search engine milik Google. Inc. Walhasil, saya harus mengecek satu-persatu dari hasil pencarian itu.


            Betapa kecewanya saya saat melihat forum – forum diskusi itu. Sebagian besar dari forum-forum diskusi itu selalu diwarnai dengan ejekan, hinaan bahkan umpatan antar pengikut agama. Sangat sedikit dari mereka –mungkin kurang dari seperempat- yang menjalankan diskusi dengan damai. Kebanyakan dari mereka memakai ego masing-masing dalam berargumen. Setiap permasalahan atau pertanyaan yang diajukan bukannya menemukan titik terang, malah justru menjadi semakin tak terarah. Parahnya, hanya segelintir orang yang menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada anggota lain.

Diskusi –yang lebih tepatnya disebut “Perang Ego”- ini amat sangat membahayakan bagi kaum-kaum awam yang sedang mempelajari agamanya. Bagaimana tidak, bukannya pengetahuan murni yang mereka dapatkan melainkan pengetahuan yang sudah dicampur adukkan dengan kepentingan pribadi (baca: ego) masing-masing yang salah-salah bisa menyebabkan sifat dendam pada ummat lain yang tak sejalan dengan agamanya. Hal inilah yang penulis takuti akan menjadi awal dari kehancuran dan perpecahan bangsa ini.


            Sudah teramat rusakkah moral bangsa kita ini sehingga dengan mudahnya kita saling memaki, merendahkan dan mengumpat agama lain ?, Apa gunanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika jika tak ada kesadaran untuk bersatu dan saling menghormati satu sama lain ?. Lalu apa pula artinya kedamaian yang diajarkan ummat islam, cinta kasih yang diajarkan kristen, kebijaksanaan yang diajarkan buddha dan ajaran-ajaran lain yang syarat akan persatuan?

Mungkin, bagi bangsa ini Egoisme lebih berharga dari kasih sayang. Kita telah membunuh hati nurani kita sendiri dengan menafikan orang lain. Mungkin pula kita sudah merasa teramat benar sehingga masing-masing berhak menyalahkan orang lain. Padahal, kebenaran tidak datang melalui egoisme. Seseorang yang merasa pernah sekolah pasti tahu bahwa Matematika adalah ilmu pasti. Namun, orang itupun pasti tahu betul bagaimana Ilmu Sosiologi mengajarkannya cara berbicara (baca: berinteraksi) dengan orang lain sehingga dia bisa memilih kata yang tepat untuk tidak menyakiti hati seseorang yang salah saat menjawab soal matematika meskipun nyatanya Salah dalam ilmu matematika adalah Salah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan beri komentar ke situs ini..